Sekolah di luar negeri sering dipandang sebagai kesempatan emas. Banyak orang tua WNI yang ingin anaknya menempuh pendidikan internasional demi kualitas akademik lebih baik, pengalaman global, dan masa depan cerah.
Namun, di balik semua kelebihan itu, ada tantangan besar yang harus dihadapi anak-anak Indonesia saat bersekolah di negeri orang.
Tantangan ini tidak hanya soal pelajaran, tetapi juga soal budaya, mental, dan adaptasi sehari-hari. Jika tidak disiapkan sejak awal, anak bisa merasa kesepian, kewalahan, bahkan tertekan.
Berikut adalah tantangan utama yang biasanya dialami anak WNI di luar negeri, beserta cara menghadapinya.
1. Perbedaan Bahasa
Salah satu tantangan terbesar adalah bahasa. Meski banyak sekolah internasional menggunakan bahasa Inggris, tetap saja kemampuan bahasa menjadi kunci utama. Anak yang belum terbiasa bisa merasa minder saat berbicara atau kesulitan memahami pelajaran.
Latih anak dengan kursus bahasa sebelum berangkat, atau biasakan membaca, mendengar, dan berbicara dalam bahasa asing sehari-hari. Jangan takut salah bicara, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Mendorong anak untuk berani bertanya juga membantu mereka cepat terbiasa.
2. Adaptasi dengan Budaya Baru
Setiap negara punya budaya berbeda. Mulai dari kebiasaan makan, cara berpakaian, hingga gaya berkomunikasi. Anak WNI mungkin akan kaget dengan perbedaan tersebut. Misalnya, di Jepang siswa terbiasa membersihkan kelas sendiri, sementara di Eropa anak dituntut lebih mandiri sejak dini.
Bekali anak dengan wawasan tentang budaya negara tujuan. Orang tua bisa membicarakan perbedaan yang mungkin ditemui dan bagaimana bersikap menghargainya. Ajak anak untuk bersikap terbuka dan fleksibel. Semakin cepat anak menerima perbedaan, semakin mudah mereka beradaptasi.
3. Rasa Rindu Tanah Air (Homesick)
Tinggal jauh dari keluarga dan lingkungan yang familiar membuat banyak anak merasa kesepian. Homesick sering muncul di bulan-bulan pertama, terutama bagi yang belum pernah tinggal jauh dari orang tua.
Cara menghadapinya:
Dorong anak tetap menjaga komunikasi rutin dengan keluarga lewat telepon atau video call. Namun, jangan sampai terlalu sering sampai menghambat interaksi dengan lingkungan baru.
Bantu anak menemukan kegiatan positif, seperti bergabung dengan klub sekolah atau komunitas lokal, supaya mereka merasa punya “rumah kedua.”
4. Tekanan Akademik yang Berbeda
Sistem pendidikan di luar negeri sering kali berbeda dari di Indonesia. Di beberapa negara, anak harus aktif berdiskusi, presentasi, atau mengerjakan proyek tim. Hal ini bisa jadi tantangan bagi anak yang terbiasa hanya mendengarkan guru.
Latih anak sejak dini untuk lebih aktif, percaya diri, dan berani menyampaikan pendapat. Jika merasa kesulitan, ajarkan mereka mencari bantuan dari guru, tutor, atau teman sekelas. Ingatkan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tapi justru cara cerdas untuk berkembang.
5. Biaya Hidup dan Manajemen Uang
Meski biaya pendidikan bisa diatur, anak tetap perlu belajar mengelola keuangan sehari-hari. Banyak pelajar WNI kaget dengan harga makanan, transportasi, atau biaya hiburan di luar negeri. Jika tidak hati-hati, uang saku bisa habis lebih cepat dari rencana.
Ajarkan anak membuat anggaran sederhana sejak awal. Bantu mereka membedakan kebutuhan dan keinginan. Anak juga bisa dilatih untuk memasak makanan sederhana sendiri agar lebih hemat. Dengan disiplin keuangan, mereka bisa belajar mandiri sekaligus mengurangi beban orang tua.
6. Perbedaan Cuaca dan Gaya Hidup
Banyak anak Indonesia yang baru pertama kali merasakan musim dingin di luar negeri. Cuaca ekstrem bisa membuat tubuh kaget dan menurunkan semangat belajar. Selain itu, gaya hidup yang berbeda, misalnya harus naik transportasi umum setiap hari atau jalan kaki jauh juga bisa jadi tantangan.
Persiapkan anak dengan pakaian dan perlengkapan sesuai musim. Ajarkan pentingnya menjaga kesehatan dengan olahraga ringan dan pola makan seimbang. Bicarakan juga soal manajemen waktu, karena gaya hidup yang lebih aktif butuh penyesuaian jadwal sehari-hari.
7. Diskriminasi atau Perbedaan Perlakuan
Tidak semua negara ramah sepenuhnya terhadap pendatang. Beberapa anak mungkin menghadapi stereotip atau diskriminasi karena berasal dari negara berbeda. Hal ini bisa menurunkan kepercayaan diri dan membuat mereka sulit bergaul.
Ajarkan anak untuk tetap percaya diri dengan identitasnya sebagai orang Indonesia. Bekali mereka dengan kemampuan komunikasi yang baik agar bisa menjalin hubungan sehat dengan teman sebaya.
Orang tua juga bisa memilih sekolah dengan lingkungan internasional yang inklusif, sehingga anak lebih mudah diterima.
8. Kemandirian Sehari-hari
Anak-anak yang terbiasa bergantung pada orang tua mungkin kaget saat harus mengurus diri sendiri di luar negeri. Mulai dari mencuci baju, merapikan kamar, hingga mengatur jadwal belajar. Tantangan ini bisa membuat mereka kewalahan di awal.
Sebelum berangkat, latih anak melakukan pekerjaan rumah sederhana secara mandiri. Biarkan mereka mencoba memasak, mencuci, atau mengatur jadwal harian. Dengan latihan ini, mereka lebih siap menghadapi kehidupan mandiri saat di luar negeri.
9. Perbedaan Gaya Pertemanan
Di Indonesia, pertemanan biasanya erat dan hangat. Namun, di luar negeri, anak bisa menemukan gaya pertemanan yang lebih individualis. Kadang sulit menemukan teman dekat dalam waktu singkat.
Dorong anak untuk tetap terbuka, ramah, dan tidak mudah menyerah dalam mencari teman. Bergabung dengan klub atau organisasi sekolah bisa jadi cara efektif untuk membangun jaringan pertemanan. Ingatkan anak bahwa butuh waktu untuk menemukan sahabat yang cocok.
~Afril