Mulai tahun 2026, sistem seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) akan mengalami perubahan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan menjadi syarat wajib bagi siswa yang ingin mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Kebijakan ini menjadi pembaruan besar, karena selama ini SNBP dikenal sebagai jalur tanpa tes. Jika sebelumnya siswa cukup mengandalkan nilai rapor dan prestasi, maka mulai 2026 mereka juga harus memiliki nilai TKA sebagai bagian dari proses seleksi.
Lalu, apa sebenarnya TKA itu? Bagaimana kaitannya dengan SNBP dan mengapa kebijakan ini diberlakukan?
Apa Itu Tes Kemampuan Akademik (TKA)?
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen nasional yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen untuk mengukur kemampuan akademik siswa SMA/SMK/MA. Tes ini dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih objektif tentang kemampuan belajar siswa di seluruh Indonesia, terlepas dari perbedaan standar penilaian antar sekolah.
Dilansir dari situs tka.kemendikdasmen.go.id, TKA adalah bentuk asesmen capaian akademik siswa yang terstandar. TKA muncul dari tidak adanya standar antara sekolah-sekolah untuk menilai kualitas lulusan.
Nah, materi yang diujikan dalam TKA meliputi:
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- Matematika
Selain itu, peserta TKA akan memilih dua mata pelajaran pilihan, di antaranya ada
bahasa Indonesia lanjutan, matematika lanjutan, bahasa Inggris lanjutan, fisika, kimia, biologi, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, ekonomi, geografi, sosiologi, dan sejarah.
TKA direncanakan akan mulai dilaksanakan pada November 2025, dan hasilnya akan digunakan sebagai salah satu data penting dalam proses SNBP tahun 2026.
Perlu diketahui, TKA tidak memengaruhi kelulusan sekolah, tetapi berfungsi sebagai alat ukur kemampuan akademik nasional dan pembanding objektif nilai rapor yang digunakan untuk seleksi perguruan tinggi.
Selama ini, nilai rapor menjadi komponen utama dalam SNBP. Namun, perbedaan standar penilaian antar sekolah sering menimbulkan ketimpangan. Ada sekolah yang sangat ketat dalam memberi nilai, sementara sekolah lain lebih longgar. Akibatnya, sulit memastikan keadilan dan objektivitas dalam proses seleksi.
Di sinilah TKA berperan. Tes ini menjadi alat ukur nasional yang seragam untuk memvalidasi nilai rapor. Dengan TKA, pemerintah dapat memastikan bahwa siswa yang dinilai berprestasi di sekolah memang memiliki kemampuan akademik yang kuat secara nasional.
Selain itu, TKA juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas seleksi SNBP. Dengan adanya nilai tes yang berskala nasional, proses seleksi akan lebih adil dan dapat dipertanggungjawabkan.
TKA dan SNBP 2026
Mulai tahun 2026, hubungan antara TKA dan SNBP menjadi sangat erat. TKA tidak menggantikan SNBP, tetapi menjadi bagian pendukung yang wajib ada di dalamnya.
Siswa yang ingin mendaftar ke PTN melalui jalur SNBP harus memiliki nilai TKA. Artinya, mereka wajib mengikuti ujian TKA terlebih dahulu. Jika tidak memiliki nilai TKA, maka siswa tidak akan dianggap eligible untuk mengikuti SNBP.
Kebijakan ini diumumkan oleh Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sebagai langkah untuk memastikan bahwa semua peserta SNBP memiliki data akademik yang bisa dibandingkan secara nasional.
Selama ini, SNBP hanya mengandalkan nilai rapor dan prestasi akademik atau non-akademik. Namun, dengan adanya TKA, nilai tes tersebut akan berfungsi sebagai validator nilai rapor.
Artinya, jika ada dua siswa dengan nilai rapor serupa tetapi hasil TKA berbeda, maka pihak perguruan tinggi bisa menggunakan hasil TKA sebagai pembeda. Tes ini membantu menilai apakah nilai rapor benar-benar mencerminkan kemampuan akademik siswa.
SNBP sebelumnya hanya menilai capaian akademik dari sekolah, sedangkan dengan adanya TKA, kemampuan berpikir logis, literasi, dan numerasi siswa ikut diuji. Ini membantu perguruan tinggi melihat potensi akademik yang sebenarnya, bukan hanya nilai yang tertulis di rapor.
Strategi Belajar untuk Menghadapi TKA
Karena TKA menekankan kemampuan berpikir kritis dan penalaran, pola belajar siswa juga perlu disesuaikan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA:
- Fokus pada pemahaman konsep. Soal TKA biasanya menuntut kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah, bukan sekadar menghafal rumus atau definisi.
- Perbanyak latihan soal penalaran. Biasakan mengerjakan soal yang mengukur kemampuan logika, literasi, dan numerasi, mirip dengan soal asesmen nasional atau UTBK.
- Bangun kebiasaan membaca dan berpikir cepat. Banyak soal TKA berbentuk teks panjang dengan konteks kehidupan sehari-hari.
- Ikuti simulasi atau try out. Sekolah maupun lembaga bimbingan belajar kini banyak menyediakan latihan berbasis format TKA agar siswa bisa menilai kemampuan dirinya.
Dengan diberlakukannya TKA, sekolah diharapkan tidak hanya fokus pada capaian rapor, tetapi juga pada penguatan kemampuan akademik dasar siswa. Guru dapat mulai menyesuaikan metode pembelajaran dengan soal-soal berbasis penalaran agar siswa lebih siap menghadapi tes.
Bagi orang tua, penting untuk memahami bahwa SNBP 2026 bukan lagi sekadar soal nilai bagus di rapor. Dukungan moral, manajemen waktu belajar, hingga memfasilitasi anak untuk mengikuti latihan atau bimbingan TKA bisa menjadi langkah penting untuk membantu mereka beradaptasi dengan sistem seleksi baru.
Meskipun TKA menjadi syarat wajib SNBP 2026, tes ini bukan penentu tunggal kelulusan. Setiap PTN memiliki kebijakan berbeda dalam menentukan bobot antara nilai rapor, prestasi, dan TKA.
Namun, tanpa nilai TKA, siswa otomatis kehilangan kesempatan mengikuti SNBP. Oleh karena itu, memahami jadwal, mekanisme pendaftaran, serta menyiapkan diri sejak dini menjadi langkah penting agar tidak tertinggal.
~Afril