“Lihat tuh, anak tetangga bisa ranking satu. Kamu kenapa nggak bisa?”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa di telinga banyak orang tua Indonesia. Niatnya mungkin memotivasi, tetapi tanpa disadari kebiasaan membandingkan ini justru bisa melukai hati anak dan mengganggu kesehatan mental mereka.
Kenapa Membandingkan Itu Berbahaya?
Menurut penelitian dari Journal of Child and Family Studies, perilaku orang tua yang sering membandingkan anak dengan anak lain bisa menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko stres hingga depresi pada anak.
Ini membuat anak merasa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup baik karena selalu ada orang lain yang “lebih hebat”.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa tekanan akademik menjadi salah satu penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja, seperti kecemasan dan gangguan tidur.
Banyak anak yang merasa belajar hanya untuk memenuhi ekspektasi orang tua, bukan karena ingin berkembang.
Dampak Jangka Panjang pada Anak
Kebiasaan membandingkan ini tidak hanya membuat anak sedih sesaat, tetapi bisa berdampak jangka panjang, seperti:
- Rendah diri dan takut mencoba hal baru karena merasa dirinya tidak mampu.
- Perfeksionis berlebihan, hanya merasa berharga jika mendapatkan nilai sempurna.
- Menjauh dari orang tua karena merasa tidak dipahami dan hanya dinilai dari prestasi.
UNICEF menyebutkan bahwa anak yang tumbuh dengan tekanan tinggi tanpa dukungan emosional rentan mengalami gangguan mental saat dewasa.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Daripada fokus pada perbandingan, coba gunakan pendekatan yang lebih sehat seperti ini;
- “Tuh lihat kakakmu lebih rajin” ganti dengan “Ibu lihat kamu sudah berusaha. Bagian mana yang bikin kamu kesulitan?”.
- “Kalau nilai kamu nggak bagus, Mama kecewa” ganti dengan “Nilai kamu turun, ya? Yuk, kita cari solusi bareng”.
- “Kamu harus bisa seperti teman kamu” ganti dengan “Setiap anak punya kelebihan masing-masing. Kita cari kelebihan kamu, yuk”.
Pendekatan seperti ini disebut growth mindset, yaitu cara berpikir bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha, bukan bawaan lahir.
Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa anak dengan growth mindset lebih tahan terhadap stres akademik dan cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih kuat.
Fokus Pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Nilai bagus memang menyenangkan, tetapi lebih penting membentuk karakter belajar. Ajari anak bahwa gagal itu tidak apa-apa, yang penting mau mencoba lagi. Beri apresiasi pada usahanya, bukan hanya hasilnya.
Orang tua bisa mengatakan, “Ibu bangga kamu berani tanya ke gurumu” atau “Walaupun belum dapat nilai besar, kamu sudah belajar lebih lama dari kemarin. Itu kemajuan!”.
Menurut American Psychological Association (APA), apresiasi terhadap usaha dapat meningkatkan ketekunan dan kesehatan mental anak.
Jadilah Teman, Bukan Hakim untuk Anak
Anak tidak butuh dibandingkan, mereka butuh dipahami karena setiap anak punya jalur tumbuhnya sendiri. Tugas orang tua juga bukan mencetak anak yang paling hebat, tetapi mendampingi mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Jadi, mulai hari ini jika muncul keinginan membandingkan, tahan sebentar dan ganti dengan kalimat yang mendukung. Karena anak yang merasa dicintai tanpa syarat akan tumbuh jauh lebih kuat daripada anak yang selalu merasa tidak pernah cukup.
~Febri