Saat Anak Menganggap Matematika sebagai Musuh, Berikut Peran Orang Tua Mengubahnya Jadi Sahabat

Share

Sebagian anak tumbuh dengan rasa takut atau tidak nyaman setiap kali berhadapan dengan angka atau soal matematika. Rasa ini, yang sering disebut math anxiety atau kecemasan matematika, bukan sekadar “malas belajar” atau “kurang pintar”.

Ini adalah pengalaman emosional nyata yang bisa membuat anak merasa cemas, frustrasi, atau bahkan panik saat harus melakukan tugas yang berkaitan dengan angka.

Kecemasan ini bisa memengaruhi bagaimana anak merasa tentang matematika sepanjang hidupnya, bahkan bisa sangat berpengaruh pada prestasi akademik dan pilihan karier di masa depan.

Maka peran orang tua menjadi penting bukan hanya untuk membantu mengerjakan tugas, tetapi untuk mengubah pandangan anak tentang matematika dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Mengapa Anak Bisa Takut Matematika?

Anak bisa mengembangkan rasa takut akan matematika karena beberapa hal:

  • Pengalaman negatif sebelumnya, seperti diejek saat salah atau ditekan untuk selalu benar.
  • Instruksi yang cepat tanpa support individual, membuat anak merasa gagal jika belum paham.
  • Pesan dari orang terdekat, seperti orang tua yang berkata “aku dulu tidak suka matematika”, yang membuat anak belajar bahwa matematika itu menakutkan.

Riset menunjukkan bahwa anak tidak lahir dengan ketakutan ini, tetapi berkembang melalui pengalaman dan lingkungan, termasuk cara orang tua berbicara tentang matematika.

Peran Orang Tua dalam Mengubah Pandangan Anak

Sebagai orang tua, kamu bisa menjadi agen perubahan besar dalam bagaimana anak melihat matematika. Langkah pertama adalah mengakui perasaan anak, jangan meremehkan atau mengecilkan kekhawatiran mereka.

Mengatakan hal sederhana seperti, “Wah, matematika membuatmu cemas ya? Itu wajar, banyak anak juga merasa begitu”, bisa membantu anak merasa didengar dan tidak sendirian.

Setelah itu, fokuskan pendekatan pada tiga hal berikut:

  1. Buat Math Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Matematika tidak harus selalu berarti soal buku atau tes. Kamu bisa menemukan angka di mana saja, seperti saat menghitung sayur di pasar, membagi kue saat keluarga berkumpul, atau menentukan waktu berangkat sekolah.

Aktivitas sederhana ini membantu anak melihat bahwa matematika itu nyata, berguna, dan bukan monster yang harus dihindari.

  1. Cari Kesempatan untuk Bermain dan Menyenangkan

Belajar tidak harus serius. Game kartu sederhana, permainan dadu, teka-teki logika, atau aplikasi edukatif bisa membuat matematika terasa seperti tantangan yang menyenangkan, bukan ulangan yang mengancam.

Bahkan kegiatan seperti family math terbukti meningkatkan kenyamanan anak dalam berinteraksi dengan angka.

  1. Ubah Bahasa yang Kamu Gunakan

Tanpa sadar, orang tua sering mengatakan hal yang membuat anak takut terhadap matematika, misalnya: “Matematika itu sulit” atau “Ayo jangan salah”.

Penelitian menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap matematika bisa memengaruhi sikap anak sendiri terhadap pelajaran ini. Sebaliknya, gunakanlah kalimat yang mendukung, seperti “Kita coba selesaikan bersama” atau “Kesalahan itu bagian dari belajar”.

Cara Membantu Anak Tetap Tenang Saat Belajar

Selain perubahan sikap jangka panjang, ada beberapa strategi sederhana yang bisa membantu anak tetap tenang saat belajar matematika:

  • Bangun kepercayaan diri lewat pujian pada usaha, bukan hanya pada jawaban yang benar.
  • Gunakan pendekatan yang bertahap, mulai dari yang mudah, lalu perlahan naik ke yang lebih menantang.
  • Berikan ruang anak untuk berdiskusi dan mengeksplorasi tanpa rasa takut dihukum jika salah.
  • Bicarakan matematika sebagai keterampilan yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan.

Intinya, mengubah pandangan anak terhadap matematika bukan pekerjaan satu hari. Ini adalah proses yang membutuhkan kesabaran, pengakuan emosional, dan pendekatan yang konsisten.

Namun, hasilnya luar biasa karena anak tidak hanya menjadi lebih nyaman dengan angka, tetapi juga memperoleh rasa percaya diri yang dapat diterapkan di banyak aspek kehidupan mereka.

Ingatlah, matematika sebenarnya bukan lawan, melainkan alat yang membantu anak memahami dunia. Dengan bimbingan yang tepat, rasa takut akan angka bisa perlahan berubah menjadi rasa penasaran dan bahkan kesenangan.

 

~Febri

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.