Perbedaan TKA untuk SD dan SMP, Ini Informasi Penting yang Perlu Diketahui Orang Tua

Share

Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah tes standar dari pemerintah untuk mengukur kemampuan akademik murid secara objektif. Tes ini mulai diberlakukan di jenjang SD dan SMP dan dirancang agar adil, mudah diakses, serta gratis karena dibiayai negara.

Berdasarkan informasi resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pelaksanaan TKA untuk SD dan SMP direncanakan mulai berlaku pada April 2026.

Tes ini sifatnya sukarela, bukan syarat kelulusan sekolah, dan tidak dipungut biaya.

Mata Pelajaran yang Diujikan, Format, dan Durasinya

Untuk kelas 6 SD, ada dua mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika. Sementara untuk kelas 9 SMP, mata pelajaran yang diujikan juga sama, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika.

Karena hanya dua mata uji, persiapan bisa lebih fokus dibanding tes dengan banyak mata pelajaran.

Sementara untuk format pelaksanaannya, tes dilakukan satu hari untuk SD dan SMP. Selama ujian, alokasi waktunya adalah 60 menit untuk Bahasa Indonesia dan 60 menit untuk Matematika.

Format soal bisa bervariasi, tidak hanya soal pilihan ganda sederhana, tetapi juga soal penalaran atau situasi yang mengukur pemahaman, bukan hanya hafalan.

Perbedaan Soal antara SD dan SMP

Walaupun sama-sama ditujukan untuk mengukur kemampuan akademik, TKA SD dan SMP memiliki perbedaan yang cukup penting. Meski hanya menguji dua mata pelajaran, tetapi tingkat kesulitan dan cakupan materinya berbeda sesuai jenjang pendidikan.

Di SD, soal matematika biasanya fokus pada pemahaman dasar seperti bilangan, pengukuran, pecahan, dan interpretasi data sederhana.

Untuk Bahasa Indonesia, pertanyaan lebih banyak mengukur pemahaman teks dasar dan kemampuan menemukan informasi langsung dari bacaan.

Sementara itu, soal TKA SMP menuntut kemampuan berpikir yang lebih kompleks. Untuk Matematika, materi yang diuji bisa mencakup aljabar dasar, operasi bilangan lebih luas, dan pemecahan masalah yang membutuhkan penalaran lebih tinggi.

Lalu, untuk Bahasa Indonesia, teks yang digunakan biasanya lebih panjang dan menuntut analisis, seperti menyimpulkan informasi tidak langsung, memahami argumen, dan menilai isi bacaan.

Perbedaan tingkat kognitif ini dipengaruhi oleh tujuan TKA yang ingin mengukur perkembangan kemampuan akademik murid sesuai tahap pendidikannya.

Format soal juga tidak hanya pilihan ganda biasa. TKA dapat memuat soal dengan lebih dari satu jawaban benar atau soal berbasis stimulus sehingga anak harus membaca tabel, grafik, atau teks terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan.

Karena itu, persiapan yang baik tidak hanya bergantung pada hafalan, tetapi pada kemampuan memahami konteks, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan logis.

Peran Orang Tua dalam Membantu Persiapan Anak

  • Kenalkan TKA sebagai pilihan, bukan beban.

    Karena TKA sifatnya sukarela, orang tua bisa menjelaskan bahwa anak dapat ikut jika merasa siap dan ingin tahu “seberapa kuat kemampuan akademiknya.”

  • Latihan rutin dengan simulasi gratis.

    Pemerintah menyediakan simulasi TKA yang bisa diakses secara online gratis.

  • Bantu anak memahami soal.

    Jangan hanya bantu anak mencari jawaban, tetapi ajak dia berpikir, “Kenapa kamu pilih jawaban itu?” Ini merupakan cara untuk melatih penalaran.

  • Buat suasana belajar yang santai tapi teratur.

    Alokasikan jam belajar yang konsisten, tetapi tetap beri waktu istirahat agar anak tidak stres.

  • Gunakan sumber belajar dari sekolah.

    Tanyakan ke guru atau pihak sekolah apakah mereka punya program pembahasan soal TKA atau latihan khusus.

Hal terpenting yang harus dipahami adalah orang tua sebaiknya memposisikan TKA sebagai kesempatan belajar, bukan sumber tekanan. Ajak anak berdiskusi apakah dia ingin ikut, apa tujuan mengikuti tes, dan bagaimana proses persiapannya.

Pendampingan emosional sama pentingnya dengan persiapan akademik, terutama bagi anak yang mudah cemas saat menghadapi ujian.

Simpulannya, TKA bisa menjadi alat bantu untuk melihat kemampuan akademik anak secara lebih objektif. Tes ini dapat menjadi pengalaman positif dan membantu anak memahami kekuatan dan aspek belajar yang masih perlu ditingkatkan.

 

~Febri

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.