Banyak orang tua merasa harus ikut mengajari anak di rumah agar nilainya bagus. Padahal, peran orang tua yang paling efektif bukan menggantikan guru, melainkan mendampingi proses belajar.
Riset menunjukkan, keterlibatan orang tua berdampak positif pada prestasi dan kesehatan mental anak.
Namun, ketika orang tua terlalu masuk sebagai “guru tambahan”, misalnya dengan mengoreksi terus, menjelaskan ulang semua materi, atau menekan dengan perbandingan, hal ini justru bisa membuat anak stres dan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap belajarnya.
Padahal, hanya dengan menjadi pendamping, anak bisa belajar mandiri, lebih percaya diri, dan tetap merasa didukung secara emosional.
Mendampingi vs Mengajari: Bedanya Apa?
Mendampingi berarti menjadi fasilitator dan teman diskusi. Orang tua menyediakan ruang belajar, mengatur waktu, dan memberi pertanyaan reflektif seperti, “Bagian mana yang paling sulit?” atau “Apa yang sudah kamu pahami?”.
Misalnya, saat anak kesulitan Matematika, orang tua jangan langsung mengajarkan rumusnya, tetapi mulai dengan menanyakan bagian yang membingungkan. Dengan begitu, anak jadi belajar mencari solusi sendiri.
Berbeda dengan mendampingi, mengajari berarti mengambil alih peran guru. Misalnya, dengan menjelaskan ulang seluruh materi atau mengoreksi setiap langkah yang dilakukan anak.
Cara ini membuat anak akhirnya pasif dan bergantung pada orang tua. Penelitian bahkan menemukan bahwa bantuan langsung dalam mengerjakan PR bisa berdampak negatif pada motivasi anak remaja.
Menjadi Motivator, Bukan Pengkritik
Peran orang tua yang tepat adalah penyemangat, bukan penghakim. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.
-
Fokus pada usaha, bukan hasil.
Katakan pada anak, “Nggak apa-apa nilai kamu segitu. Yang penting kamu sudah berusaha keras, bagus!” dan bukan bilang, “Nilai 70 itu jelek. Kamu kurang berusaha kayaknya.”
-
Berikan pujian konkret.
Misalnya dengan bilang pada anak, “Mama/papa suka cara kamu mencoba ulang meski gagal pertama kali.”
-
Lakukan dialog terbuka.
Ajak anak menganalisis kesulitan yang dirasakannya saat belajar, bukan langsung memberikan jawaban.
-
Koreksi dengan bijak.
Ganti kritik seperti, “Kok kamu salah terus, sih?” menjadi “Bagian ini bisa kita perbaiki sama-sama. Yuk,kita coba!”
-
Berikan tujuan kecil dan reward.
Contohnya, jika anak selesai belajar tiga bab, berikan waktu istirahat bersama dengan menonton film.
Dengan cara-cara ini, anak menjadi lebih termotivasi dan merasa didukung.
Dukungan Emosional Menjadi Fondasi Penting
Selain motivasi, anak butuh dukungan emosional agar belajar tidak jadi beban. Studi OECD menyebut dukungan emosional orang tua berhubungan dengan kesejahteraan dan prestasi akademik remaja.
Bentuk dukungan sederhana yang penting bagi anak adalah:
-
Berikan empati.
Validasi perasaan anak dengan bilang, “Mama/papa tahu ini memang sulit, tapi kamu pasti bisa. Ayo, coba pelan-pelan.”
-
Sediakan ruang aman untuk gagal.
Tekankan bahwa salah itu bagian dari belajar.
-
Lakukan komunikasi terbuka.
Dengarkan curhat tentang tekanan sekolah yang dirasakannya. We listen, don’t judge.
-
Berikan waktu istirahat seimbang.
Ingatkan anak untuk tidak belajar terus-menerus.
-
Berikan perhatian kecil.
Bisa dengan menyiapkan camilan atau sekadar bertanya, “Mau istirahat dulu?”
Misalnya, saat anak frustrasi belajar Kimia, mata pelajaran yang tidak disukainya, orang tua bisa menawarkan istirahat sejenak sebelum kembali berdiskusi ringan. Hasilnya, belajar jadi lebih nyaman.
Jadi, ingatlah bahwa mendampingi anak belajar tidak sama dengan mengajari karena orang tua itu seharusnya memfasilitasi, bukan menggantikan guru. Lalu, jadilah motivator, bukan pengkritik usaha anak. Beri pujian konkret dan koreksi dengan lembut jika anak salah.
Dengan melakukan peran ini, anak akan tumbuh lebih mandiri, berani mencoba, dan mampu menghadapi tantangan akademik tanpa merasa sendirian.
~Febri