Sebagai orang tua, wajar jika kita merasa khawatir atau kecewa saat melihat nilai rapor anak kurang memuaskan.
Namun, sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa anak tidak pintar atau malas, ada baiknya kita melihat nilai rendah ini sebagai peluang untuk bertumbuh, bukan sebagai akhir dari segalanya.
Konsep seperti ini dikenal dengan istilah growth mindset, yaitu cara berpikir bahwa kemampuan anak bisa berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, dan dukungan lingkungan.
Berbeda dengan fixed mindset, yang membuat anak merasa “aku memang nggak bisa”, growth mindset mendorong mereka berpikir “aku belum bisa, tetapi aku bisa belajar”.
Nah, bagaimana caranya membantu anak memanfaatkan nilai rendah agar jadi motivasi di semester berikutnya?
-
Hindari Menyalahkan, Ajak Berdiskusi
Saat melihat nilai anak turun, alih-alih langsung berkata, “Kok nilainya jelek begini?”, coba mulai dengan pertanyaan seperti:
“Menurut kamu, bagian mana yang paling susah?”
“Kalau semester depan mau lebih baik, kira-kira apa yang perlu kita perbaiki bareng?”
Kalimat seperti ini memberi anak rasa dihargai dan didukung, bukan dihakimi. Mereka jadi lebih terbuka untuk mengevaluasi diri.
-
Tekankan Usaha, Bukan Hanya Hasil
Menurut psikolog Carol Dweck dari Stanford University, tokoh utama di balik konsep growth mindset, anak yang selalu dipuji hanya karena hasil, misalnya dengan berkata, “Wah, kamu pintar!”, cenderung takut mencoba hal baru karena takut gagal.
Sebaliknya, anak yang dipuji karena usaha seperti, “Keren, kamu sudah coba berkali-kali!”, akan lebih berani menghadapi tantangan.
Jadi, saat anak dapat nilai rendah, orang tua bisa berkata:
“Nilai ini belum sesuai harapan, tapi ini petunjuk bagus supaya kita tahu bagian mana yang perlu dilatih.”
-
Buat Target Belajar yang Realistis dan Terstruktur
Daripada orang tua hanya berkata, “Semester depan harus naik!”, lebih baik membantu anak membuat rencana yang lebih spesifik.
Misalnya, di pelajaran Matematika jika anak bingung saat latihan soal cerita, orang tua bisa mengajaknya mengerjakan latihan 3 soal per hari dan jika perlu memberikan guru privat.
Lalu, untuk pelajaran Bahasa Inggris, jika anak kurang mengerti mengenai kosa kata, ajak dia baca 1 artikel pendek atau menonton video 5 menit bahasa Inggris setiap hari.
Begitu juga dengan mata pelajaran Fisika, bagi anak yang susah paham rumus, sarankan dia untuk belajar bersama teman atau membuat catatan visual.
Dengan rencana-rencana seperti ini, anak jadi tahu arahnya jelas dan tidak merasa sendirian.
-
Rayakan Progres Kecil
Motivasi terbesar bukan datang dari pujian besar, tetapi dari pengakuan atas langkah kecil. Saat anak mulai disiplin belajar, meskipun baru seminggu, beri apresiasi dengan berkata, “Aku lihat kamu lebih rajin ya akhir-akhir ini. Ibu/Bapak bangga banget. Teruskan, ya.”
Kalimat sederhana seperti ini bisa meningkatkan dopamin motivasi anak.
-
Tunjukkan Contoh Tokoh Sukses yang Pernah Gagal
Anak SMP dan SMA biasanya lebih semangat jika diberi contoh nyata.
Misalnya, Albert Einstein pernah dianggap “bodoh” oleh gurunya, pendiri Alibaba Jack Ma yang pernah ditolak 30 kali melamar kerja, bahkan J.K. Rowling, penulis “Harry Potter”, sempat ditolak 12 penerbit.
Cerita-cerita seperti ini mengajarkan bahwa nilai rendah bukan penentu masa depan, tetapi hanya catatan sementara.
Nilai Rendah Bukan Akhir, tapi Titik Awal
Sebagai orang tua, tugas kita bukan hanya menuntut, tetapi menjadi teman bertumbuh. Dengan menerapkan growth mindset dalam keluarga, anak akan belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk menyerah.
Yuk, mulai semester depan dengan semangat baru! Bukan dengan rasa takut, tetapi dengan strategi dan harapan.
~Febri