Mengenal Fenomena Gen Z Stare di Dunia Kerja

Share

Di tengah budaya kerja modern yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul satu istilah baru yang sering dibicarakan di media sosial yaitu Gen Z stare. 

Fenomena ini merujuk pada ekspresi datar, kosong, atau tatapan “tanpa emosi” yang sering ditunjukkan anak-anak muda, terutama Gen Z, ketika menghadapi situasi tidak masuk akal di kantor, tuntutan kerja yang berlebihan, atau drama-drama profesional yang menurut mereka absurd.

Bukan sekadar gaya malas, Gen Z stare sebenarnya adalah bentuk respon terhadap budaya kerja lama yang dianggap tidak sehat. Alih-alih pura-pura semangat padahal lelah, atau tersenyum sopan saat diperlakukan tidak adil, Gen Z memilih menatap lurus, datar, seolah berkata dalam hati: “Ini tuh nggak make sense sama sekali, tapi ya sudah.”

Apa Itu Gen Z Stare?

Gen Z stare bukan istilah ilmiah, tapi istilah budaya internet untuk menggambarkan ekspresi khas Gen Z yaitu: 

  • Wajah datar
  • Mata menatap lurus
  • Minim reaksi
  • Kadang disertai sedikit anggukan pelan atau helaan napas pendek

Biasanya muncul ketika mereka:

  • Mendengar permintaan bos yang tidak realistis
  • Menghadapi aturan kantor yang kaku tapi tidak logis
  • Menyaksikan drama kantor yang tidak ada hubungannya dengan performa kerja
  • Ditegur karena hal-hal superfisial, sementara masalah inti diabaikan

Kalau generasi sebelumnya mungkin akan menanggapinya dengan senyum terpaksa, permintaan maaf, atau mencoba menjelaskan panjang lebar, Gen Z sering kali memilih satu hal yaitu diam, menatap, lalu melanjutkan hidup.

Latar Belakang Psikologis dan Sosial

Fenomena Gen Z stare tidak muncul tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

Pertama, kelelahan emosional. Gen Z tumbuh di tengah banjir informasi: krisis ekonomi, pandemi, berita konflik, isu lingkungan, sampai tuntutan “harus sukses sebelum umur 25”. 

Ditambah tekanan akademik dan ketidakpastian karier, banyak dari mereka sudah lelah bahkan sebelum masuk dunia kerja. Tatapan datar kadang jadi bentuk coping mechanism, cara bertahan ketika sudah kehabisan energi untuk bereaksi.

Kedua, ketidaksabaran terhadap hal-hal yang dianggap tidak rasional. Banyak Gen Z yang lebih vokal soal mental health, work-life balance, dan kerja yang masuk akal. 

Ketika bertemu sistem yang kaku, hierarki berlebihan, atau “budaya kerja lama” yang hanya mengedepankan formalitas tanpa logika, reaksi mereka sering bukan marah-marah, tapi ya itu menatap datar, merasa tidak relate, dan secara batin sedikit menjauh.

Ketiga, normalisasi humor terhadap tekanan hidup. Di internet, Gen Z terbiasa menjadikan keresahan sebagai bahan bercanda. Segala hal ditangkap dengan meme, jokes, dan ironi. 

Tanda Penolakan Halus terhadap Budaya Kerja Lama

Gen Z stare bisa dibaca sebagai simbol penolakan halus terhadap cara kerja lama yang dinilai tidak sehat, misalnya:

  • Kerja lembur dianggap bukti loyalitas, padahal sistemnya sendiri tidak efisien
  • Atasan merasa selalu benar, meski jelas-jelas keputusan yang diambil tidak sesuai fakta
  • Formalitas berlebihan lebih penting daripada hasil kerja nyata
  • Tuntutan “harus tahan banting”, padahal yang dimaksud sebenarnya tahan diperlakukan tidak adil

Generasi sebelumnya mungkin diajarkan untuk menerima semua ini sebagai “wajar”. Gen Z tidak lagi menganggapnya normal. Mereka mungkin tidak selalu melawan secara frontal, tapi ekspresi datar itu adalah bentuk komunikasi nonverbal: “Aku dengar, tapi aku tidak setuju.”

Dampak Gen Z Stare di Lingkungan Kerja

Dari kacamata atasan atau rekan kerja yang lebih senior, Gen Z stare sering disalahartikan sebagai:

  • Tidak sopan
  • Tidak antusias
  • Kurang respek
  • Tidak punya etika kerja

Padahal, di balik tatapan datar itu, sering kali ada beberapa hal:

  • Mereka sebenarnya memproses informasi dan menilai apakah yang diminta masuk akal atau tidak.
  • Mereka memilih tidak langsung bereaksi emosional karena tahu debat panjang pun mungkin tidak mengubah sistem.
  • Mereka sudah kelelahan menjelaskan hal-hal mendasar yang seharusnya dipahami manajemen.

Namun, fenomena ini memang bisa memicu miskomunikasi lintas generasi. Atasan yang terbiasa dengan respon “baik, Pak/Bu” mungkin bingung ketika mendapati bawahan muda yang hanya menatap. Di sinilah perlu ada jembatan komunikasi yang lebih terbuka antara generasi.

Risiko Jika Hanya Berhenti di “Stare”

Meski bisa dipahami, Gen Z stare juga punya sisi risiko. Kalau hanya berhenti di tatapan datar tanpa komunikasi lanjutan, hal-hal seperti ini bisa terjadi:

  • Masalah di sistem kerja tidak pernah benar-benar diangkat atau diperbaiki.
  • Atasan tidak tahu bahwa kebijakan tertentu sebenarnya merugikan atau tidak realistis.
  • Gen Z yang merasa tidak cocok hanya menyimpan kekesalan lalu tiba-tiba resign, tanpa pernah ada dialog.

Lama-lama, ini bisa menciptakan pola generasi muda merasa tidak didengar, generasi tua merasa tidak dihargai. Padahal, keduanya sama-sama ingin satu hal: sistem kerja yang jelas, manusiawi, dan efektif.

Mengubah Gen Z Stare Jadi Dialog dan Perubahan

Fenomena Gen Z stare bisa jadi titik awal refleksi, bukan sekadar bahan meme. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan kedua belah pihak.

Dari sisi perusahaan dan atasan jangan langsung mengartikan tatapan datar sebagai sikap malas. Coba gunakan momen itu untuk bertanya: “Menurut kamu ini masuk akal nggak? Ada saran lain?”

Libatkan anak muda dalam diskusi kebijakan, bukan hanya sebagai pelaksana. Mereka sering punya sudut pandang segar dan lebih dekat dengan realita lapangan. Jelaskan konteks keputusan. Kadang kebijakan terasa “absurd” karena karyawan tidak tahu latar belakangnya.

Dari sisi Gen Z, setelah “stare”, upayakan tetap ada komunikasi. Bisa dengan bertanya pelan, mengajukan alternatif, atau memberi masukan di momen yang lebih tenang.

Jelaskan batasan dan kebutuhanmu dengan cara profesional. Misalnya: soal jam lembur, beban kerja, atau ekspektasi yang tidak realistis.

Manfaatkan kepekaanmu terhadap hal yang tidak sehat untuk mendorong perubahan, bukan hanya menjauh secara mental.

 

~Afril

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.