Mengelola Stres dan Kecemasan Anak Saat Puasa untuk Meningkatkan Kesejahteraan Mentalnya

Share

Bagi banyak anak SMP dan SMA, bulan puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga mengatur ulang ritme hidup. Perubahan pola tidur, aktivitas sekolah, serta tekanan sosial dapat membuat sebagian remaja merasa lelah, mudah marah, atau cemas.

Karena itu, peran orang tua sangat penting untuk membantu mereka menjalani puasa dengan tenang dan sehat, baik secara fisik maupun mental.

Pahami Sumber Stres Anak

Saat berpuasa, tubuh dan pikiran anak beradaptasi terhadap perubahan yang cukup besar. Jam tidur yang berkurang, makan sahur yang terburu-buru, hingga padatnya kegiatan sekolah dapat menurunkan konsentrasi dan memengaruhi suasana hati.

Penelitian menunjukkan bahwa selama Ramadan, kualitas tidur remaja bisa menurun, yang kemudian berdampak pada meningkatnya kelelahan dan sensitivitas emosional.

Selain faktor fisik, ada pula tekanan sosial dan emosional. Beberapa anak mungkin merasa takut gagal menjalani puasa dengan “sempurna”, sedangkan yang lain merasa berbeda dari teman-temannya yang memiliki kebiasaan ibadah atau rutinitas berbeda.

Jika tidak dikelola, hal-hal kecil ini bisa memicu kecemasan.

 

Peran Komunikasi Orang Tua

Kunci utama dalam menjaga kesejahteraan mental anak selama puasa adalah komunikasi yang terbuka dan empatik. Luangkan waktu setiap hari untuk menanyakan kabar anak, bukan sekadar apakah mereka kuat berpuasa, tetapi bagaimana perasaan mereka.

Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu capek nggak hari ini?” atau “Ada yang bikin kamu stres di sekolah?” bisa membuka ruang aman bagi anak untuk bercerita.

Hindari menghakimi ketika anak mengaku lelah atau merasa kesulitan. Sebaliknya, apresiasi kejujuran mereka dan bantu mencari solusi bersama.

Misalnya, jika anak sering mengantuk di sekolah, bantu atur ulang waktu tidur malam atau waktu belajar setelah berbuka.

 

Menjaga Keseimbangan Rutinitas

Bimbing anak untuk tetap menjaga pola hidup seimbang. Pastikan saat sahur mereka mengonsumsi makanan bergizi, yang terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, serta sayuran, agar energi cukup sepanjang hari.

Setelah berbuka, bantu anak minum air secara bertahap hingga menjelang tidur agar tubuh tetap terhidrasi.

Tidur yang cukup juga sangat penting. Remaja idealnya membutuhkan 7 – 8 jam tidur setiap malam. Jika waktu tidur terpotong karena sahur, dorong anak untuk tidur lebih awal atau tidur siang sebentar jika memungkinkan.

Penelitian di International Journal of Behavioral Medicine pada 2024 menyebutkan bahwa pola tidur yang konsisten selama Ramadan dapat membantu menjaga kestabilan emosi.

Selain itu, ajak anak untuk tetap melakukan aktivitas ringan, seperti berjalan sore menjelang berbuka. Gerakan tubuh ini membantu melepaskan ketegangan dan meningkatkan mood.

 

Bantu Anak Mengelola Pikiran dan Perasaan

Ketika anak mulai merasa stres atau cemas, bantu mereka menggunakan teknik sederhana untuk menenangkan diri.

Misalnya dengan menarik napas dalam-dalam selama beberapa kali, menulis hal-hal yang mereka syukuri hari itu, atau mendengarkan musik yang menenangkan setelah tarawih.

Aktivitas spiritual seperti membaca doa atau merenung tentang makna puasa juga bisa membantunya merasa lebih tenang dan fokus pada hal-hal positif.

Jika orang tua melihat tanda-tanda stres berat, misalnya anak sering murung, sulit tidur, kehilangan semangat belajar, atau mudah marah tanpa sebab, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau guru BK di sekolah.

Bantuan profesional bisa membantu anak memahami emosinya dengan cara yang sehat.

Intinya, puasa seharusnya menjadi waktu yang memperkuat ketenangan dan kedekatan keluarga.

Ingatlah bahwa kesejahteraan mental anak selama Ramadan sama pentingnya dengan keberhasilan mereka menahan lapar dan haus karena dari sanalah tumbuh kekuatan spiritual dan emosional yang sesungguhnya.

 

~Febri

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.