Sebagai orang tua, kita tentu mendambakan anak yang bahagia, semangat, dan sehat secara fisik maupun mental.
Namun, di dunia yang penuh tekanan belajar dan aktivitas ekstra, anak bisa mengalami burnout belajar, seperti kelelahan fisik atau emosional, akibat beban belajar yang terus-menerus.
Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dasar hingga remaja dapat mengalami burnout sekolah, yang ditandai dengan kelelahan, sikap sinis terhadap sekolah, dan merasa “gagal” meski sudah berusaha keras.
Tak hanya anak, orang tua juga bisa burnout dan kondisi ini bisa memengaruhi anak secara langsung. Studi di Tiongkok misalnya menunjukkan bahwa kecemasan orang tua terhadap pendidikan anak berkorelasi positif dengan burnout akademik anak.
Maka, liburan sekolah yang diberikan pada anak tidak sekadar “berhenti sebentar” dari aktivitas belajar, tetapi harus jadi kesempatan healing total untuk mengisi ulang energi fisik, mental, dan emosionalnya.
Berikut panduan praktis untuk orang tua.
-
Siapkan Mindset “Istirahat Penuh”
Alih-alih hanya “mengubah lokasi” liburan, ciptakan suasana yang mendukung rehat total. Biarkan anak bebas dari rutinitas belajar yang ketat, tugas menumpuk, atau ekspektasi tinggi. Ingat, tujuan utama anak liburan adalah pemulihan, bukan produktivitas.
-
Kurangi Kecemasan Orang Tua
Ketika orang tua terus menerus khawatir akan nilai, prestasi, atau masa depan anak, tekanan itu cepat merambat ke anak. Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan orang tua dapat memicu burnout pada anak melalui mekanisme burnout orang tua.
Jadi, beri ruang bagi diri sendiri untuk “matikan” tugas sebagai orangtua sejenak dan fokus pada kehadiran ringan bersama anak.
-
Prioritaskan Aktivitas yang Menyegarkan Pikiran dan Tubuh
Berikut beberapa aktivitas yang bisa dilakukan orang tua bersama anak.
- Pilih kegiatan luar ruang, seperti jalan santai di alam, piknik ringan, berenang, atau sekadar main bebas di taman.
- Batasi penggunaan gadget atau belajar selama liburan.
- Pastikan anak cukup tidur dan mendapatkan waktu “tidak melakukan apa-apa” untuk membiarkan imajinasi dan energi mereka pulih.
4. Bangun Kembali Ikatan Tanpa Tekanan
Liburan adalah momentum bagus untuk memperkuat hubungan orang tua-anak tanpa target akademik. Libatkan anak memilih aktivitas ringan bersama, misalnya memasak bersama, bergotong-royong membangun kebun mini, atau bercerita mengenai hal yang mereka sukai.
Ketika anak memiliki keluarga fungsional, yaitu yang saling mendukung, terbuka, dan santai, ini terbukti membantu mengurangi tekanan pada anak dan orang tua.
-
Bantu Anak Mengenali Tanda-Tanda Kelelahan
Sebagai orang tua, kenali jika anak mulai terlihat:
- Lewat dari kewajiban belajar dengan malas atau menghindar
- Sering merasa letih, mudah tersinggung, atau malas berinteraksi
- Merasa “tak ada gunanya” bila belajar
Itu semua bisa jadi tanda burnout akademik pada anak. Saat liburan, lebih mudah mengenali dan merespons tanda tersebut dengan istirahat yang cukup.
-
Rencanakan Rutinitas “Kembali ke Sekolah” secara Bertahap
Saat liburan berakhir, jangan langsung memaksa anak ke ritme belajar normal. Lebih baik aja anak untuk berdiskusi santai mengenai sekolah yang akan datang, lalu secara bertahap kembali ke jadwal reguler.
Intinya, liburan bukan sekadar jeda waktu, tetapi kesempatan emas untuk healing total.
Dengan menurunkan tekanan, menyiapkan ruang istirahat yang bermakna, dan memperkuat hubungan sebagai keluarga, orang tua bukan hanya mengisi ulang energi anak dan diri sendiri, tetapi juga mencegah burnout belajar yang bisa berdampak jangka panjang.
Semoga liburan dengan anak menjadi momen pengisian ulang yang benar-benar berarti.
~Febri