Kasih Hadiah Boleh, tapi Jangan Salah Strategi. Ini Cara Mengapresiasi Nilai Anak dengan Tepat!

Share

Saat pembagian rapor dan anak mendapatkan nilai yang memuaskan atau lebih tinggi dari sebelumnya, salah satu pertanyaan yang sering muncul di benak para orang tua adalah haruskah anak diberikan hadiah?

Lalu, bagaimana jika anak nilainya mengecewakan, apakah perlu diberi hukuman? Nah, sebelum memutuskan untuk melakukan keduanya, baca dulu artikel ini sampai selesai, ya.

Hadiah Efektif untuk Jangka Pendek, Berisiko untuk Motivasi Jangka Panjang

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa hadiah atau imbalan, terutama yang berbentuk bersifat barang, sering meningkatkan perilaku sementara negatif pada anak, yaitu berusaha demi hadiah.

Namun, bila hadiah terus-menerus dipakai untuk aktivitas yang sudah anak nikmati atau yang seharusnya dilandasi rasa ingin tahu, ini berisiko mengurangi intrinsic motivation atau motivasi dari dalam.

Dengan kata lain, anak jadi bersikap “aku belajar supaya dapat hadiah”, bukan “aku belajar karena ingin menguasai materi”. 

Bukan Soal “Boleh” atau “Tidak”, tapi Cara Memberinya

Kalau kamu ingin memberi penghargaan karena anak mendapat nilai bagus, pertimbangkan bentuk dan tujuannya.

Pertama, pilih penghargaan yang mendukung proses belajar, bukan hanya barang. Misalnya, pengalaman anak bersama orang tua, seperti makan malam spesial, jalan-jalan singkat, atau waktu khusus mengobrol tanpa gangguan.

Ini akan memberi sinyal bahwa orang tua merayakan usaha dan strategi anak, bukan sekadar angka.

Lalu, fokuskan pujian pada usaha dan strategi, bukan hanya pada hasil. Jadi, daripada cuma bilang, “Wah, kamu pintar”, lebih baik katakan, “Kamu hebat sudah kerja keras belajar keras untuk ujian”.

Pujian jenis ini memperkuat rasa percaya diri dan keterampilan metakognitif anak. 

Jika Nilai Kurang Bagus, Hindari Hukuman yang Memupus Motivasi

Reaksi negatif yang penuh kemarahan, mempermalukan, atau pemberian label negatif seperti “anak pemalas”, cenderung membuat anak takut, stres, dan mengurangi keterbukaan mereka untuk belajar dari kesalahan.

Alih-alih hukuman, praktik yang lebih efektif adalah:

  • Mulai dengan empati.

    Tanyakan pada anak, “Apa yang paling susah semester ini?” atau “Di mata pelajaran ini, bagian mana yang bikin kamu stuck?”, yang membantunya berefleksi tanpa merasa diserang.

  • Buat rencana perbaikan bersama.

    Tentukan satu atau dua langkah konkret, misalnya ikut bimbingan belajar, jadwal review 30 menit selama 3 kali seminggu, dan belajar teknik membaca efektif.

  • Berikan konsekuensi alami dan logis.

    Jangan berikan hukuman yang melecehkan. Contohnya, kalau tugas dikerjakan asal-asalan sehingga nilainya rendah, konsekuensinya adalah harus mengulang bagian tugas dengan panduan atau membayar kembali waktu ekstra untuk memperbaiki.

Perbedaan anak SMP vs SMA, Sesuaikan Pendekatan

Anak SMP masih sangat sensitif terhadap pujian verbal dan butuh bantuan membangun kebiasaan. Sementara anak SMA mulai mencari otonomi dan identitas sehingga mereka lebih menghargai penjelasan rasional dan kesempatan mengambil keputusan sendiri.

Namun, secara umum anak SMP dan SMA perlu dilibatkan dalam menetapkan tujuan akademis dan konsekuensi; ini mendukung rasa kontrol dan motivasi internal. 

Intinya, hadiah jika anak mendapatkan nilai rapor bagus boleh-boleh saja, tetapi pikirkan tujuan dan bentuknya. Prioritaskan penghargaan yang memperkuat usaha, strategi, dan otonomi anak.

Lalu, hindari hukuman yang mempermalukan atau reaksi emosional yang keras. Lebih baik gunakan empati, dialog, dan rencana perbaikan.

Karena baik hadiah atau hukuman, tujuan utama orang tua seharusnya adalah membentuk anak yang termotivasi belajar karena mereka paham dan tertarik, bukan hanya ingin mendapat hadiah atau menghindari hukuman.

 

~Febri

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.