Hal Kecil yang Sering Menjatuhkan Nilai Ujian Praktik Matematika

Share

Ujian praktik Matematika sering dianggap “lebih santai” dibanding ujian tulis, karena biasanya siswa boleh menggunakan alat bantu seperti penggaris, kalkulator tertentu, atau bekerja dalam kelompok kecil. 

Padahal, nilai ujian praktik justru bisa sangat menentukan, apalagi jika menjadi bagian dari penilaian akhir. Sayangnya, banyak nilai bagus yang “bocor” hanya karena kesalahan-kesalahan sepele yang sebenarnya bisa dihindari.

Berikut beberapa kesalahan kecil yang sering terjadi di ujian praktik Matematika dan bagaimana cara mencegahnya.

1. Terburu-buru Membaca Instruksi

Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak membaca instruksi dengan teliti. Misalnya, soal meminta “tunjukkan langkah perhitungan” tetapi siswa hanya menulis jawaban akhir. 

Akibatnya, meskipun jawaban akhir benar, guru bisa mengurangi poin karena syarat soal tidak terpenuhi. Di ujian praktik, guru sering menilai bukan hanya benar-salah, tetapi juga ketaatan pada prosedur dan instruksi.

Cara menghindari:
  • Luangkan 1–2 menit pertama hanya untuk membaca seluruh instruksi dengan pelan.
  • Tandai kata kunci seperti “tunjukkan”, “jelaskan”, “lengkapi tabel”, “gambar pada bidang koordinat”.
  • Sebelum mengumpulkan, cek lagi: sudah semua instruksi dijalankan belum?

2. Mengabaikan Satuan dan Label

Di ujian praktik, siswa sering diminta melakukan pengukuran (panjang, sudut, luas, skala, dan sebagainya). Kesalahan sepele yang sering terjadi:

  • Tidak menuliskan satuan (cm, m, derajat, cm²).
  • Salah mengubah satuan (misalnya 1 m ditulis 10 cm, padahal harusnya 100 cm).
  • Lupa memberi label pada sumbu x dan y saat menggambar grafik.

Guru bisa mengurangi nilai karena satuan dan label menunjukkan pemahaman konsep. Jawaban angka tanpa satuan sering dianggap belum lengkap, terutama di soal yang berkaitan dengan pengukuran atau perbandingan.

Cara menghindari:
  • Biasakan menulis satuan setiap kali menulis hasil pengukuran.
  • Saat menggambar grafik, tulis label sumbu (misalnya “waktu (detik)” dan “jarak (meter)”).
  • Jika harus mengubah cm ke m atau sebaliknya, tulis langkah konversinya dahulu agar tidak salah.

3. Salah Memakai Kalkulator

Kalkulator membantu mempercepat perhitungan, tapi juga bisa menjadi sumber kesalahan. Beberapa masalah yang sering muncul:

  • Salah memasukkan urutan operasi (misalnya menekan tombol tanpa tanda kurung, sehingga hasil berbeda).
  • Tidak mengecek kembali hasil kalkulator dengan perkiraan logis.
  • Mengandalkan kalkulator untuk hal sederhana sehingga lupa konsep.

Contoh: Soal meminta menghitung 2(3 + 5²). Jika siswa langsung menekan tombol tanpa memperhatikan urutan, bisa saja ia mendapatkan hasil yang salah. Padahal jika memahami aturan operasi (pangkat dulu, baru yang lain), siswa bisa mengecek apakah hasil kalkulator masuk akal.

Cara menghindari:
  • Gunakan kalkulator hanya setelah menuliskan bentuk matematikanya dengan benar di kertas.
  • Lakukan perkiraan kasar (misalnya “hasilnya sekitar 50-an”) untuk mengecek apakah hasil kalkulator terlalu jauh.
  • Jika waktu memungkinkan, hitung kembali soal-soal penting atau bernilai besar pada rubrik penilaian.

4. Tulisan Berantakan dan Langkah Tidak Jelas

Di ujian praktik, guru biasanya melihat proses, bukan hanya hasil. Tulisan yang terlalu kecil, tumpang tindih, atau langkah yang melompat-lompat bisa membuat guru kesulitan mengikuti alur berpikir siswa. Akibatnya, siswa tidak mendapatkan poin maksimal, walaupun idenya sebenarnya benar.

Kesalahan yang sering terjadi:

  • Menumpuk coretan di satu bagian kertas tanpa merapikannya.
  • Tidak memberi nomor soal dengan jelas.
  • Menulis langkah-langkah perhitungan di pinggir kertas tanpa urutan.
Cara menghindari:
  • Sisakan ruang kosong di setiap soal untuk revisi atau koreksi.
  • Beri nomor soal dengan jelas dan urut.
  • Tuliskan langkah-langkah utama saja, tidak perlu semua coretan, tetapi tetap runtut.
  • Kalau ada hitungan yang salah, coret sekali, jangan sampai membuat kertas penuh “sampah” angka.

5. Kurang Teliti Saat Menggambar Bangun atau Grafik

Di ujian praktik Matematika, sering ada tugas menggambar bangun geometri, diagram, atau grafik fungsi. Di sini, ketelitian menjadi kunci. Kesalahan sepele yang sering muncul:

  • Tidak menggunakan penggaris, sehingga garis lurus menjadi miring.
  • Menggambar sudut tanpa bantuan busur derajat, sehingga ukurannya tidak akurat.
  • Skala pada sumbu grafik tidak konsisten (jarak 1 satuan tidak sama panjang).

Padahal, poin penilaian biasanya mencakup kerapian, kebenaran bentuk, dan kesesuaian dengan data atau persamaan.

Cara menghindari:
  • Siapkan alat tulis lengkap sebelum ujian (pensil, penggaris, penghapus, penggaris segitiga, busur derajat jika diperlukan).
  • Biasakan menggambar dengan skala yang rapi: misalnya tiap 1 cm mewakili 1 satuan.
  • Setelah menggambar, cek kembali: apakah sudut, panjang sisi, dan posisi titik sudah sesuai perhitungan?

6. Lupa Menuliskan Langkah atau Penjelasan

Beberapa soal praktik meminta siswa menjelaskan cara menemukan suatu nilai, membandingkan dua metode, atau menyimpulkan hasil pengamatan. Namun, siswa sering hanya menuliskan hasil akhir tanpa penjelasan.

Contoh: Soal meminta “jelaskan mengapa segitiga ABC dan DEF kongruen”. Jika siswa hanya menjawab “karena kongruen”, tentu nilainya akan berkurang banyak. Guru ingin melihat alasan, misalnya “karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang (SSS)” atau “karena sudut-sudut dan sisi di antara sudut tersebut sama (SAS)”.

Cara menghindari:
  • Perhatikan kata kerja pada soal: “jelaskan”, “buktikan”, “tunjukkan”, “bandingkan”. Kata-kata ini hampir selalu butuh kalimat atau penjelasan, bukan hanya angka.
  • Tuliskan alasan singkat di bawah jawaban, minimal satu kalimat yang menjawab “kenapa” atau “bagaimana”.

7. Tidak Mengecek Ulang Hasil Pekerjaan

Saat waktu ujian hampir habis, banyak siswa fokus mengerjakan soal-soal terakhir sampai detik terakhir, lalu langsung mengumpulkan tanpa mengecek kembali. Padahal, satu atau dua menit terakhir bisa menyelamatkan beberapa poin penting.

Kesalahan sepele yang sering ditemukan saat dicek ulang:

  • Salah salin angka dari soal ke langkah hitung.
  • Tanda plus/minus tertukar.
  • Jawaban di lembar kerja tidak sama dengan yang ditulis di tabel atau grafik.
Cara menghindari:
  • Usahakan menyisakan 5–10 menit terakhir khusus untuk mengecek.
  • Fokus cek hal-hal penting: satuan, tanda operasi, kesesuaian grafik dengan tabel, dan kelengkapan instruksi.
  • Mulai dari soal dengan bobot besar atau yang menurutmu paling rawan salah.

8. Meremehkan Soal yang Terlihat “Mudah”

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah meremehkan soal yang tampak sederhana. Karena merasa “ah, gampang”, siswa justru mengerjakan dengan asal dan tidak mengecek ulang. Padahal, kesalahan sederhana pada soal mudah bisa sama merugikannya dengan gagal di soal sulit.

Contoh: Soal sederhana tentang luas persegi panjang bisa salah hanya karena salah mengalikan panjang dan lebar, atau karena lupa mengubah satuan. Soal mudah sering menjadi “penopang nilai”, sehingga jika terlalu banyak salah di bagian ini, nilai bisa turun drastis.

Cara menghindari:
  • Tetap perlakukan soal mudah dengan serius: tulis langkahnya dengan rapi, cek satuan, dan tinjau kembali jawabannya.
  • Jangan terlalu lama di soal sulit sampai mengorbankan soal mudah yang bernilai sama.

 

~Afril

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.