Di era setelah pandemi, dunia kerja banyak berubah, rekrutmen serba online, interview lewat video call, onboarding bisa jarak jauh, dan lowongan kerja tersebar di berbagai platform digital.
Di tengah perubahan ini, muncul satu fenomena baru yang bikin banyak HR dan recruiter garuk-garuk kepala, yaitu para profesional muda yang sudah menerima tawaran kerja, tetapi tidak datang di hari pertama tanpa kabar sama sekali.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan profesional muda, terutama Gen Z, dan disebut sebagai bagian dari tren career catfishing atau job ghosting.
Dalam konteks ini, bukan hanya perusahaan yang bisa “menghilang” dari kandidat, tapi kandidat juga bisa “menghilang” dari perusahaan.
Pertanyaannya, kenapa hal ini terjadi, dan apa dampaknya terhadap etika kerja generasi muda?
Apa Itu Career Catfishing dalam Konteks Dunia Kerja?
Jika sebelumnya catfishing identik dengan memalsukan identitas di media sosial atau aplikasi dating, maka dalam dunia kerja, fenomena yang mirip muncul dalam bentuk lain. Salah satunya adalah ketika kandidat:
- Mengikuti seluruh proses rekrutmen
- Menerima tawaran kerja secara resmi
- Bahkan sudah menyepakati tanggal mulai bekerja
Namun, ia tidak datang di hari pertama, tidak menghubungi HR, tidak mengirim pesan pembatalan, dan benar-benar menghilang tanpa jejak.
Dari sudut pandang perusahaan, ini terasa seperti ditinggal tanpa penjelasan. Dari sudut pandang kandidat, kadang ini dianggap “ya sudah, tinggal nggak dateng aja”, tanpa menyadari konsekuensi jangka panjangnya. Di sinilah persoalan etika kerja mulai disorot.
Kenapa Profesional Muda Bisa Menghilang Setelah Terima Offer?
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang sering jadi penyebab, terutama pada generasi yang tumbuh di era serba cepat dan serba banyak pilihan seperti Gen Z.
Pertama, budaya banyak pilihan. Di era platform lowongan kerja online, seseorang bisa melamar puluhan posisi dalam waktu singkat. Akibatnya, beberapa kandidat bisa menerima lebih dari satu offer dalam waktu berdekatan.
Ketika ada tawaran lain yang dirasa lebih menarik, misalnya gaji lebih tinggi, lokasi, jam kerja, dan pertimbangan personal lain, ada yang memilih langsung datang ke tempat lain dan meninggalkan offer sebelumnya tanpa memberi kabar.
Kedua, kurangnya keberanian untuk berkata “tidak”. Menolak tawaran kerja sering terasa sulit, terutama bila telah melewati proses rekrutmennya panjang.
Alih-alih mengirim pesan penolakan, sebagian orang memilih “ghosting” dengan asumsi kalau diam saja, nanti perusahaan akan paham sendiri. Padahal, diam justru menunjukkan kurangnya profesionalisme.
Ketiga, relasi kerja yang terasa tidak personal. Proses rekrutmen yang serba online kadang membuat kandidat merasa tidak terlalu terikat secara emosional dengan perusahaan.
Semua lewat email, chat, atau video call. Akhirnya, komitmen pun terasa lebih longgar dibanding kalau mereka sudah sering datang ke kantor dan bertemu langsung timnya.
Keempat, kurangnya pemahaman soal etika kerja jangka panjang.
Sebagian profesional muda mungkin berpikir konsekuensi dari menghilang itu cuma: “ya sudah, nggak jadi kerja di situ.”
Padahal, jaringan HR dan recruiter itu luas dan saling terhubung. Nama baik bisa tersebar, baik atau buruk. Di beberapa industri, hal seperti ini bisa diingat dan memengaruhi kesempatan di masa depan.
Dampak Job Ghosting terhadap Etika Kerja Gen Z
Fenomena ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan etika kerja generasi muda, terutama Gen Z. Stereotip yang kemudian muncul misalnya:
- Tidak bisa berkomitmen jangka panjang,
- Terlalu impulsif dalam mengambil keputusan
- Kurang menghargai waktu dan usaha orang lain
- Lebih mementingkan kenyamanan pribadi daripada profesionalisme.
Tentu, stereotip ini tidak selalu benar dan tidak mewakili seluruh Gen Z. Banyak juga profesional muda yang sangat bertanggung jawab, komunikatif, dan menjunjung tinggi etika kerja.
Namun, kasus-kasus job ghosting yang makin sering terjadi membuat citra generasi muda di mata HR dan atasan jadi negatif.
Hal yang sering luput disadari adalah ketika kandidat menghilang tanpa kabar, yang terdampak bukan hanya perusahaan secara abstrak, tetapi juga orang-orang di dalamnya.
Tim HR yang sudah meluangkan waktu mereview CV, melakukan wawancara, membuat penawaran. Tim yang sudah menyiapkan tempat bekerja, aset seperti laptop, akun email, akses sistem, dan membagi beban kerja dengan asumsi akan ada anggota baru yang masuk.
Ketika kandidat menghilang, semua itu harus diulang dari awal. Bukan hanya buang waktu, tetapi juga bisa menghambat pekerjaan orang lain.
Apa yang Bisa Dilakukan Gen Z untuk Tetap Etis di Era Banyak Pilihan?
Punya banyak pilihan itu privilege, tapi juga tanggung jawab. Bukan berarti kamu tidak boleh berubah pikiran soal tawaran kerja. Sangat wajar kalau di menit-menit terakhir kamu mendapat offer yang lebih cocok. Namun, yang membedakan profesional dan tidak profesional adalah cara mengelola keputusan itu.
Beberapa hal sederhana yang bisa menunjukkan etika kerja yang baik:
- Berani berkata jujur. Kalau setelah dipikir ulang kamu memutuskan tidak jadi mengambil posisi tersebut, sampaikan lewat email atau chat dengan sopan. Ucapkan terima kasih, jelaskan singkat alasan dan mohon maaf atas ketidaknyamanan.
- Jangan menunda-nunda kabar. Begitu yakin ingin menolak, segera kabari. Semakin lama kamu diam, semakin dekat hari H, semakin besar kerugian bagi perusahaan.
- Hargai waktu HR dan tim rekrutmen. Ingat bahwa mereka sudah menginvestasikan waktu dan energi untuk prosesmu. Mengirim satu pesan singkat jauh lebih hormat daripada menghilang tanpa penjelasan.
- Pikirkan reputasi jangka panjang. Dunia kerja itu sempit. HR bisa pindah ke perusahaan lain, rekan kerja bisa jadi atasanmu di masa depan. Cara kamu bersikap hari ini bisa menentukan bagaimana mereka memandangmu besok.
Profesionlisme tidak selalu tentang jas rapi, meja kantor, atau jam kerja 9–5. Di era digital, profesionalisme terlihat dari hal-hal kecil seperti:
- Menepati janji yang sudah disepakati
- Mengabari ketika kondisi berubah
- Menghargai waktu dan usaha orang lain
- Berani bertanggung jawab atas keputusan sendiri
~Afril