Cara Orang Tua Mendekat Kembali dengan Anak SMA yang Mulai Menutup Diri

Share

Banyak orang tua kaget ketika tiba-tiba mendapati anak yang dulu cerewet, suka bercerita tentang apa pun, kini berubah menjadi lebih pendiam setelah masuk SMA. Mereka pulang sekolah langsung masuk kamar, lebih sering bersama teman atau ponsel, dan hanya menjawab seadanya ketika ditanya. 

Perubahan ini sering membuat orang tua bertanya-tanya: apakah ada yang salah? Apakah anak sedang menyembunyikan sesuatu? Atau apakah ia tidak percaya kepada orang tuanya lagi?

Padahal, berkurangnya intensitas bercerita sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi di masa remaja. Pada fase ini, anak ingin lebih mandiri, mencoba memahami dunia dengan caranya sendiri, dan mencari ruang privasi yang lebih besar. 

Namun, meski wajar, tetap penting bagi orang tua untuk tetap menjalin kedekatan, bukan dengan memaksa mereka bercerita, tetapi dengan menciptakan suasana yang membuat mereka merasa aman untuk membuka diri. Berikut cara pelan-pelan mendekat lagi agar hubungan tetap hangat, meski anak sudah beranjak remaja.

Memahami bahwa Remaja Butuh Ruang

Langkah pertama adalah menerima bahwa anak SMA sedang berada pada masa pencarian jati diri. Mereka lebih sensitif, mudah merasa dihakimi, dan sangat ingin dihargai sebagai individu yang sedang tumbuh dewasa. 

Ketika orang tua terlalu banyak bertanya, terutama tentang hal yang mereka anggap pribadi, anak bisa merasa “diawasi”. Ini membuat mereka memilih untuk menarik diri. Dengan memahami bahwa ini adalah fase alami, orang tua dapat menurunkan ekspektasi dan mulai menyesuaikan cara komunikasi.

Mengubah Pertanyaan Menjadi Percakapan

Banyak remaja memilih diam bukan karena tidak ingin cerita, tetapi karena mereka tidak nyaman dengan cara orang tua bertanya. Pertanyaan seperti “tadi sekolah gimana?”, “kok murung?”, atau “ada masalah apa?” terdengar menginterogasi. 

Cobalah mengubah pendekatan menjadi percakapan lebih santai. Misalnya, saat makan malam, orang tua dapat bercerita dulu tentang hal lucu yang terjadi pada mereka hari itu. Dari situ anak biasanya akan lebih mudah ikut berbagi. Remaja lebih nyaman membuka diri ketika suasana tidak tegang dan tidak diarahkan khusus untuk membahas dirinya.

Hadir Tanpa Menghakimi

Salah satu alasan anak berhenti bercerita adalah karena merasa komentar orang tua terkadang terlalu menggurui atau mengkritik. Ketika mereka cerita tentang teman, orang tua kadang menilai, ketika mereka cerita tentang keresahan, orang tua kadang terlalu cepat memberi solusi. Padahal, remaja sering kali hanya ingin didengar. 

Memberikan respons seperti “oh begitu ya”, atau “pasti itu bikin kamu nggak nyaman” jauh lebih efektif untuk membuat mereka merasa diterima. Jika mereka meminta pendapat, barulah orang tua bisa memberi masukan dengan bahasa yang lembut.

Menciptakan Momen Tanpa Tekanan

Kedekatan tidak selalu datang dari percakapan serius. Justru aktivitas sederhana tanpa tekanan bisa menjadi jembatan. Mengajak anak membeli cemilan malam, menonton film bersama, atau sekadar menemani mereka ketika sedang menggambar atau mengerjakan sesuatu dapat menciptakan ruang nyaman. 

Dalam suasana santai, mereka biasanya lebih terbuka untuk mulai bercerita, bukan karena diminta, tetapi karena merasa kehadiran orang tua menyenangkan, bukan menegangkan.

Menghargai Privasi dan Kepercayaan

Kepercayaan adalah fondasi hubungan remaja dengan orang tua. Jika mereka merasa ponselnya sering dicek, obrolannya diselidiki, atau orang tua sering mengomentari kehidupan pribadinya, mereka cenderung menjaga jarak. 

Memberikan privasi bukan berarti membiarkan mereka sepenuhnya tanpa pengawasan, tetapi menunjukkan bahwa orang tua percaya mereka mampu bertanggung jawab. Ketika kepercayaan diberikan, secara alami remaja cenderung ingin menjaga hubungan itu tetap baik.

Menjadi Teman Bercerita, Bukan Hakim

Saat anak remaja menceritakan hal yang sensitif, tentang teman, cinta pertama, atau tekanan sekolah, tahan keinginan untuk bereaksi berlebihan. Orang tua perlu menjadi tempat aman, bukan tempat yang membuat mereka takut dimarahi atau dipermalukan. 

Dengan bersikap tenang dan menerima, anak akan merasa bahwa ia bisa datang kapan saja tanpa takut dihukum atau diminta berubah seketika. Lama-kelamaan, mereka akan menjadikan orang tua sebagai tempat curhat utama, bukan teman sebaya atau internet.

Menunjukkan Kasih Tanpa Memaksa

Bentuk kasih sayang tidak selalu berupa nasihat. Bisa dari membuatkan makanan favorit, mengantar ke sekolah ketika mereka kelelahan, atau sekadar menanyakan apakah mereka butuh sesuatu. 

Tindakan-tindakan kecil yang konsisten membuat remaja merasa dihargai. Mereka mungkin tidak selalu menunjukkan rasa terima kasih secara langsung, tetapi hati mereka akan menangkap perhatian tersebut. Ketika merasa disayangi tanpa syarat, mereka lebih mudah membuka diri.

Bersabar, Karena Kedekatan Butuh Waktu

Kedekatan dengan anak remaja tidak bisa dibangun dalam satu malam. Bahkan, saat orang tua sudah mencoba berbagai cara, ada masa ketika anak tetap memilih diam. Tidak apa-apa. Yang penting adalah menunjukkan bahwa kehadiran orang tua tetap hangat dan dapat diandalkan. 

Tanpa disadari, remaja perlahan akan kembali bercerita, biasanya dimulai dari hal kecil, seperti cerita tentang guru, teman, atau aktivitas mereka. Dari situ, percakapan akan berkembang lagi menjadi hubungan yang kuat.

 

~Afril

Lihat Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
1
Ingin tahu lebih banyak tentang program yang ditawarkan Sinotif? Kami siap membantu! Klik tombol di bawah untuk menghubungi kami.