Tes Kemampuan Akademik (TKA) sering membuat orang tua dan anak merasa tegang duluan, padahal sebenarnya TKA bukan sekadar tes “pintar atau tidak”.
TKA lebih menilai bagaimana anak berpikir, memahami pola, bernalar dengan angka dan kata, serta mengambil keputusan dari informasi yang ada. Kabar baiknya, kemampuan seperti ini bisa dilatih pelan-pelan dari rumah dengan cara yang ringan dan tidak membuat anak kewalahan.
Untuk anak SD dan SMP, yang terpenting bukan belajar seharian penuh, tetapi membiasakan otak aktif berpikir lewat rutinitas sederhana.
Berikut beberapa strategi belajar ringan di rumah yang bisa membantu meningkatkan kemampuan TKA anak tanpa membuat suasana jadi menakutkan.
Membuat Rutinitas Latihan TKA yang Sederhana dan Konsisten
Latihan soal tetap penting dalam mempersiapkan TKA, tetapi tidak harus selalu terasa seperti ujian. Orang tua bisa mengemasnya sebagai rutinitas harian yang singkat dan santai.
Pertama, gunakan bahan latihan yang sesuai usia. Pilih buku atau modul TKA khusus anak SD atau SMP yang menyajikan soal bertahap dari mudah ke sulit. Di awal, utamakan soal-soal yang bisa anak kerjakan agar muncul rasa percaya diri. Baru setelah itu perlahan tingkatkan tingkat kesulitannya.
Kedua, belajar sebentar tapi rutin. Daripada mengajak anak belajar 2 jam penuh di akhir pekan, lebih baik membuat jadwal latihan 20–30 menit setiap hari. Misalnya:
- Senin: latihan penalaran angka (pola bilangan, perbandingan sederhana).
- Rabu: latihan penalaran kata (sinonim, antonim, memahami bacaan pendek).
- Jumat: latihan pola gambar atau logika sederhana.
Durasi yang pendek membuat anak tidak cepat bosan dan tetap punya waktu bermain. Yang terpenting adalah konsistensi, bukan lamanya waktu belajar.
Ketiga, fokus pada cara berpikir, bukan hanya jawaban. Saat anak salah menjawab, jangan langsung menyalahkan atau buru-buru memberi tahu kunci jawaban. Ajak anak melihat ulang:
- “Apa yang kamu pikirkan waktu pilih jawaban ini?”
- “Ada pola lain nggak yang mungkin terlewat?”
Dengan begitu, anak belajar memperbaiki proses bernalarnya, bukan sekadar menghafal jawaban.
Menyisipkan Latihan Logika dalam Aktivitas Sehari-Hari
Kemampuan yang diukur dalam TKA sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tua tidak selalu perlu menyiapkan sesi belajar formal untuk melatih logika anak.
Justru, latihan yang disisipkan dalam aktivitas rutin sering terasa lebih ringan dan menyenangkan, sekaligus membuat anak tidak merasa sedang “diuji”. Salah satu cara paling sederhana adalah melibatkan anak dalam kegiatan berhitung nyata.
Misalnya, saat berbelanja di minimarket, orang tua bisa mengajak anak memperkirakan total belanja sebelum sampai kasir, menghitung kira-kira berapa kembalian yang akan diterima, atau membandingkan dua produk mana yang lebih murah jika dilihat dari harga per satuan.
Begitu juga saat memasak, anak bisa diajak menghitung takaran bahan. Jika resep tertulis untuk dua orang, berapa banyak bahan yang diperlukan kalau ingin memasak untuk empat orang. Dari situ, anak belajar konsep perbandingan, penjumlahan, dan perkalian dalam konteks yang konkret.
Latihan logika juga bisa muncul dari aktivitas bermain. Permainan seperti puzzle, catur, kartu angka, permainan mencari perbedaan gambar, hingga permainan menyusun balok sebenarnya sangat kaya unsur penalaran.
Saat memainkan permainan seperti itu, anak belajar mengenali pola, memprediksi langkah selanjutnya, dan menyusun strategi. Orang tua bisa ikut bermain sambil sesekali bertanya, “Kalau kamu taruh di sini, nanti yang terjadi apa?” agar anak terbiasa memikirkan konsekuensi dari pilihannya.
Membaca juga bisa menjadi sarana latihan logika yang sangat baik. Setelah anak membaca cerita pendek, artikel anak, atau komik edukatif, orang tua dapat mengajaknya menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri.
Dari situ, bisa muncul pertanyaan lanjutan seperti siapa tokoh utama, apa masalah yang dihadapi, bagaimana penyelesaiannya, dan apakah ada pilihan lain yang mungkin diambil tokoh dalam cerita.
Dengan cara-cara tersebut, latihan logika tidak lagi terasa seperti tugas tambahan yang berat. Anak belajar bernalar lewat belanja, bermain, dan membaca, sementara orang tua cukup memanfaatkan momen-momen kecil di rumah untuk mengajak anak berpikir sedikit lebih jauh.
Perlahan, kebiasaan ini akan membentuk pola pikir yang lebih terstruktur dan siap menghadapi berbagai jenis soal TKA.
Melatih Kecepatan dan Ketelitian Tanpa Bikin Anak Stres
Salah satu tantangan TKA adalah waktu pengerjaan yang terbatas. Anak perlu belajar mengatur waktu, berpikir cepat, tapi tetap teliti. Latihan ini bisa dilakukan secara ringan di rumah.
Pertama, gunakan timer dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, minta anak mengerjakan 10 soal dalam 15–20 menit. Di awal, berikan waktu yang cukup longgar. Kalau sudah mulai terbiasa, baru durasinya dipersingkat sedikit demi sedikit.
Kedua, jadikan ini sebagai “tantangan level”, bukan ancaman. Orang tua bisa mengatakan “Hari ini kita coba level 1: 10 soal dalam 20 menit. Kalau kamu bisa, besok kita naik ke level 2.” Ini membuat anak merasa seperti sedang bermain game, bukan diadili kemampuannya.
Ketiga, lakukan evaluasi kecil setelah selesai. Ajak anak melihat:
- Soal mana yang paling banyak memakan waktu?
- Kesalahan muncul karena tidak paham, atau karena terburu-buru?
Dari sini, orang tua bisa membantu anak mengenali kelemahannya dan memperbaikinya pelan-pelan.
Menyusun Target Kecil yang Realistis Bersama Anak
Supaya anak merasa punya kendali dan tujuan, ajak ia menyusun target kecil secara bersama:
- Minggu ini: mengenal dulu bentuk soal TKA (angka, kata, gambar).
- Minggu depan: fokus memperkuat penalaran numerik.
- Minggu berikutnya: fokus penalaran verbal dan bacaan.
Untuk anak SD, fokus bisa lebih banyak di hitungan dasar, pola sederhana, dan gambar. Untuk SMP, boleh mulai ditambah soal perbandingan, persentase, dan bacaan yang lebih panjang. Target yang jelas membuat latihan terasa lebih terarah, bukan asal mengerjakan soal.
~Afril