Banyak orang tua terbiasa bertanya, “Sudah makan?”, “Sudah mandi?”, atau “Sudah dikerjakan PR-nya?” pada anak. Meski pertanyaan ini memang wajar, tetapi sering terdengar seperti kontrol atau pengawasan.
Tak heran jika anak akhirnya menjawab singkat atau bahkan enggan bercerita. Padahal, anak belajar dan berkembang bukan hanya dari instruksi, tetapi dari percakapan yang membuat mereka merasa aman dan dihargai.
Penelitian menunjukkan bahwa rasa ingin tahu atau curiosity berperan besar dalam motivasi belajar, pemecahan masalah, dan perkembangan kognitif anak.
Anak yang terdorong untuk berpikir dan bertanya cenderung lebih aktif mengeksplorasi pengetahuan dibanding anak yang hanya menjawab “ya/tidak”.
Masalahnya bukan pada berapa sering orang tua bertanya, tetapi bagaimana cara bertanya. Pertanyaan yang terlalu tertutup mudah terasa seperti interogasi. Sebaliknya, pertanyaan terbuka membantu anak berpikir dan bercerita dengan lebih nyaman.
Berikut beberapa alternatif yang lebih ramah dan efektif.
-
Ganti “Sudah Belum?” dengan Pertanyaan Terbuka
Alih-alih bertanya, “PR-nya sudah selesai?”, coba bertanya:
“Ada hal menarik apa dari tugas kamu hari ini?”
Pertanyaan terbuka ini tidak menekan anak untuk sekadar melaporkan status, tetapi mengajak mereka berbagi pengalaman. Ini juga membantu anak melatih kemampuan bercerita dan berpikir reflektif.
-
Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Pertanyaan seperti “Sudah selesai?” membuat anak terpaku pada hasil akhir. Coba arahkan ke prosesnya dengan bertanya:
“Bagaimana cara kamu mengerjakan tugas tadi?”
Pendekatan ini membantu anak merasa bahwa usaha mereka dihargai, bukan sekadar pencapaian. Anak juga jadi belajar menjelaskan cara berpikirnya.
-
Gunakan Pertanyaan yang Mengajak Berpikir
Pertanyaan reflektif dapat memicu rasa ingin tahu sekaligus melatih empati, seperti:
“Kalau kamu menghadapi situasi itu lagi, apa yang ingin kamu coba berbeda?”
Pertanyaan seperti ini mendorong anak berpikir tanpa merasa dihakimi karena tidak ada jawaban benar atau salah.
-
Awali dengan “Ayah/Ibu Penasaran…”
Nada bertanya sangat memengaruhi respons anak. Pertanyaan “Kenapa kamu begitu?” lebih bernada negatif dibandingkan dengan:
“Ayah/Ibu penasaran, apa yang membuat kamu memilih itu?”
Kata “penasaran” ini terasa lebih ingin tahu dan tidak mengancam. Anak lebih terbuka saat merasa orang tua benar-benar ingin memahami, bukan menilai.
-
Ajak Anak Menjelaskan Idenya
Daripada mengejar jawaban cepat, beri ruang untuk cerita dengan berkata:
“Ceritakan ke Mama/Papa tentang gambar yang kamu buat.”
Saat anak diminta menjelaskan, mereka belajar menyusun pikiran dan mengekspresikan diri. Ini memperkuat rasa percaya diri sekaligus kemampuan komunikasi.
Tips Praktis yang Bisa Dicoba Setiap Hari
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua setiap hari:
- Jangan jawab pertanyaan anak dengan jawaban langsung jika memungkinkan, tetapi ajak untuk menjelajahi jawabannya bersama.
- Gunakan bahasa yang bukan menilai dengan menghindari kata “harus”, “pasti”, serta “benar/salah”.
- Jadikan momen makan, perjalanan ke sekolah, atau waktu tidur sebagai waktu cerita santai, bukan sesi tanya jawab formal.
Intinya, anak lebih mudah berkembang dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman secara emosional.
Dengan melakukan cara bertanya yang tidak menekan, ini akan membantu anak merasa didengarkan, bukan diawasi. Dalam jangka panjang, ini juga bisa memperkuat hubungan orang tua dan anak.
Mulai sekarang, coba kurangi pertanyaan “Sudah belum?” dan ganti dengan pertanyaan yang mengundang cerita. Perubahan kecil ini sering membawa dampak besar pada kedekatan dan rasa ingin tahu anak.
~Febri