Untitled Document
 
Saturday, 16 December 2017
 
      ENTER
 
Testimonial    |     Karir    |     Buku & CD    |     Download    |     Sign Up    |     Sitemap    |     Contact Us  
WELCOME TO SINOTIF.COM  
 
13 February 2012
Benarkah sulit mendidik si Bungsu?

Benarkah sulit mendidik si Bungsu?

 

 

“Pak…., saya bingung dan pusiiiing  sekali  ngurusin anak saya yang bungsu. Susah banget diatur dan  gak bisa diomongin sekali-dua kali. Padahal dulu kakak-kakaknya gak seperti ini  tapi kenapa kok adiknya  jadi begini ya. Apa yang salah ya ?” Curhat seorang ibu dengan nada yang penuh emosi dan hampir putus asa. Ibu itu kembali menambahkan, “ Nah, yang bikin saya tambah kesel, guru sekolahnya kemaren kasih tau ke saya, kalo nilainya terus seperti ini, bakalan gak naik kelas tahun ini.

                Saya yakin banyak orangtua mengalami masalah serupa dengan ibu tadi.  Bahkan muncul mitos di masyarakat kita, bahwa anak bungsu adalah anak yang selalu ingin dimanja, diutamakan, dan juga diperhatikan. Lalu apakah memang benar demikian ? Apakah memang sifat manja dan ingin selalu diperhatikan itu adalah suatu sifat pembawaan ataukah itu lebih kepada kemampuan yang dipelajari oleh anak.

                Saya langsung teringat dengan pengalaman pribadi, saat saya masih tinggal bersama orangtua dan kedua adik saya. Saat itu saya merasakan, hampir dalam segala hal, tuntutan dan tanggungjawab yang diberikan ayah kepada saya jauh berbeda dengan kedua adik-adik saya. Saat itu saya menerimanya sebagai sebuah kewajaran, bahwa memang begitulah seharusnya seorang kakak. Harus selalu siap membantu, membimbing, melayani adik-adiknya. Dengan kebiasaan seperti itu, lambat laut terprogram dalam keluarga saya bahwa adik saya adalah anak yang masih kecil, tidak berpengalaman, meskipun usianya saat itu sudah menginjak 20 tahun. Begitu juga dengan sikap adik saya menjadi lebih temperamental, manja, dan cenderung tidak sabar, karena terbiasa dilayani, jarang dilibatkan dalam memegang sebuah tanggung jawab dan mengambil keputusan. Kesamaan pola seperti ini ternyata banyak saya temukan di keluarga-keluarga yang lain, sehingga pantaslah kiranya bisa timbul mitos seperti demikian.

                Lantas bagaimanakah cara kita supaya dapat memotivasi anak bungsu agar termotivasi untuk berprestasi ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya tertarik sekali mengutip sebuah hasil riset yang dikeluarkan  American Time Use Survey, yang menganalisis data dari 21.000 orang dan menemukan sebuah fakta bahwa anak sulung mendapatkan porsi 3.000 jam lebih banyak bersama orangtuanya (kira-kira 20-30 menit sehari) daripada adik-adik mereka.  Penelitian tersebut juga berhasil menunjukkan bahwa anak sulung memiliki sekitar 2 sampai 3 poin IQ lebih tinggi ketimbang anak terkecil dalam keluarga. Dan yang membuat saya amazing dengan hasil penelitian ini adalah fakta bahwa ekstra poin ini bukanlah sifatnya genetik, melainkan karena orangtua menyediakan waktu lebih banyak untuk anak sulungnya, sementara pada saat si bungsu lahir dan bertambah besar perhatian orangtua biasanya telah terbagi.

                Wow banget kan, hanya berbicara dan berkomunikasi saja orangtua kepada anak mampu mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan verbal anak. Nah kalo itu dari segi IQ, bagaimana dengan dari segi sikap.

Orangtua, boleh memberikan kesempatan kepada si bungsu untuk bisa belajar bertanggungjawab dan membuat keputusan sendiri.  Orangtua dapat pula memberikan mereka keterampilan-keterampilan yang berguna buat masa depan mereka. Bila anak kita usianya masih dini, mulailah segera dari sekarang ajarkan untuk mandiri dalam memakai sepatu, merapihkan tempat tidur, berilah mereka kebebasan dalam memilih warna baju yang akan ia pakai, atau tempat liburan yang dikehendaki. Bila anak kita sudah beranjak remaja, ikut sertakanlah anak-anak kita dalam klub-klub olahraga, atau dilibatkan dalam hal kerapihan rumah yang sederhana, mencuci piring saat selesai makan, mencuci mobil ayah, atau membantu mengajarkan materi pelajaran kepada teman2 sebaya.  Dan kembali lagi, yang terpenting adalah luangkanlah waktu hanya untuk sekedar berbicara dari hati-ke hati dengan si Bungsu, sehingga ia merasakan perhatian yang utuh dan setara dengan kakak-kakaknya.  



 
 
 
  Alamat Pusat : Ruko Danau Sunter Mas, Jl. Sunter Jaya 1 No. D3 dan D5, Sunter, Jakarta Utara
                        Telp. (021) 2265 2392 - Fax. --

© Copyright 2010 - design and Hosting@ faberhost.com